Train Review

[TRAIN REVIEW] Argo Lawu KA8 Kelas Eksekutif Gambir to Solo Balapan

Naik Argo Lawu dari Jakarta Gambir ke Solo Balapan

Haloooo semuaaaa!

Selamat datang kembali di review saya yang terbaru! Sebelumnya saya mohon maaf banget yaa karena ada keterlambatan lebih dari 1 bulan dalam posting review ini dikarenakan saya yang lagi sibuk sibuknya ujian masuk dan temannya. 😦

Semoga dalam beberapa minggu kedepan sudah normal seperti biasa yaa, tentunya dengan review review seru yang menarik banget buat dibaca!

Oke di post kali ini seperti biasa saya akan mereview transportasi yang ada di negeri kita tercinta ini. Setelah kemarin ada 2 perjalanan dengan pesawat, maka kali ini akan saya selingi dengan transportasi darat yaitu kereta api.

Di trip saya kemarin saya mengulas kereta api kelas Priority dari Argo Muria, kini saatnya untuk turun sedikit ke Kelas Eksekutif di perjalanan saya menuju Solo Balapan! πŸ˜€

Kali ini seperti yang sudah tertulis di judul, saya akan pergi ke Solo dengan KA Argo Lawu. Sebelumnya sudah ada 2 review tentang Argo Lawu tetapi kala itu hanya 1 jam perjalanan menggunakan tarif parsial menuju Yogyakarta. Sekarang saatnya Full trip menuju Solo Balapan yeyyyy!

Saya membeli tiket KA Argo Lawu ini bisa dibilang cukup mendadak, baru H-4 saya beli dan ternyata kereta ini masih cukup sepi. Jadinya tanpa aba-aba langsung gas deh beli tiket Argo Lawu nya hehe.

Di tiket saya sengaja memesan di kereta eksekutif belakang, kalau ga salah saya ada di eksekutif 8 atau 9, karena jaga-jaga kalau banyak pemesan tiket go show, maklum saya lebih suka duduk di kereta yang sepi. πŸ˜€

Dan ternyata apa yang saya pikirkan itu benar-benar salah, kita lihat nanti yaaa ehehehe.

Okayy langsung ajaa selamat menikmati train review Argo Lawu dari saya! Selamat menikmati! Oh iya kalau suka jangan lupa di komen dan di share ke teman-teman yaa, ini gratis tapi ini sangat mensupport blog saya kedepannya. Terima kasih sebelumnya! πŸ˜€

Seperti biasa jika saya ingin bepergian sendiri dari dan menuju Jakarta, saya hampir selalu menggunakan transportasi umum hehe. Apalagi sore-sore karena biasanya macet, jadilah saya memilih KA bandara sambung Ojek Online untuk mencapai Stasiun Gambir.

KA Bandara Railink.

Setelah tiba di Stasiun BNI City (Sudirman Baru) tepat waktu, saya langsung menuju Stasiun Gambir. Untung saja ojeknya cukup cepat, jadi masih ada waktu lebih di Gambir nanti untuk makan makan heheh.

Di Gambir seperti biasa saya langsung mencetak boarding pass baru kemudian makan sore supaya gak terburu-buru malam nanti. Dan saya pun menunggu waktu keberangkatan dengan bersantai sambil membeli makan di Bugis Kopitiam yang terletak didalam Stasiun Gambir.

Tepat 1 jam sebelum Argo Lawu berangkat saya berangkat menuju peron di lantai paling atas. Proses pengecekan boarding pass cukup mulus karena tidak terlalu banyak antrian malam itu.

Kini saatnya naik!

Yuk naik!

Argo Lawu akan masuk melalui peron 3 atau 4, peron 1 dan 2 sepertinya diisi oleh kereta seperti Argo Parahyangan dan Argo Anggrek. Lebih sepi dibandingkan peron 3 dan 4 yang list keretanya bisa dilihat dibawah. Jadi sebelum naik pastikan dulu ya guys dimana kereta yang kita naiki akan berhenti biar ga lari-lari kalau salah peron hehehe.

Peron 3-4.

Saat sampai di atas saya langsung disuguhi pemandangan Monas yang cukup menawan malam itu dibalut dengan warna ungu. Gimana guys? Keren?

Monas!

Di jalur 3 Stasiun Gambir saat saya naik ada Kereta Api Sembrani dengan tujuan akhir Surabaya Pasar Turi. KA Sembrani menggunakan kereta eksekutif yang sama dengan Argo Lawu yang akan saya naiki nanti. Jadi kalau saya naik Sembrani pasti ga beda jauh dengan Argo Lawu.

KA Sembrani diberangkatkan tepat pada pukul 19.15 malam. Selamat jalan semoga selamat sampai tujuan! πŸ™‚

Sembrani

Setelah menunggu selama beberapa saat habis KA Sembrani diberangkatkan, akhirnya KA Argo Lawu datang di jalur 3 juga. Lokomotif yang bertugas pada perjalanan kali ini adalah CC206 13 76 milik dipo induk JNG. (Jatinegara)

Halo Argo Lawu! πŸ˜€

Argo Lawu

Seperti yang saya bilang tadi, kereta Argo Lawu ini satu jenis dengan kereta api Sembrani yang tadi berangkat. Setelah itu yang sama juga ada Gajayana, Bima, Argo Muria dan Argo Dwipangga. Kalau ada yang kurang bisa ditambah dibawah saya mungkin lupa hehehe.

K1 2016.

Saya berdiri tepat didepan eksekutif 9 saat kereta ini berhenti. Gaperlu jauh-jauh dehhh jalannya. πŸ˜€

Eksekutif 9.

Sebelum saya masuk kereta, saya biasakan untuk memfoto tulisan nama KA ini hehehe, cukup aneh? Maklum ya guys. πŸ˜€ πŸ˜€

KA Argo Lawu.

Seri dari eksekutif 9 yang akan saya naiki hari ini adalah K1 0 16 01 dengan dipo induk SLO atau Solo Balapan. Kereta ini adalah K1 seri tahun 2016 yang pertama, karena menunjukkan urutan ke 01.

K1 0 16 01.

Kereta ini memiliki kode F yang berarti dapat melaju hingga 120 Km/jam, berat total maksimum 46 ton dan bogie (roda) kereta yang menggunakan bogie K10 terbaru.

Kode teknis kereta.

Oke kini saatnya masuk ke kereta!

First impression dari kereta ini cukup bagus, kursi tampak nyaman dan lampu cukup terang. Apakah sesuai dengan fi nya? kita lihat nanti yaa. Dan semoga lampunya bisa meredup ya di perjalanan nanti hehehe.

Ya overall kabinnya cukup bagus deh hehehe, kita ulas kebisingan dan guncangan di kereta jenis ini nanti juga yaa.

Kabin dari belakang.

Diatas kan foto kabin dari belakang, sekarang geser yuk untuk foto dari bagian depan kabin! Ini diaa guys hehe.

Kabin dari depan.

1 kereta ini mengangkut sebanyak 50 penumpang, seperti kereta kelas eksekutif kebanyakan. Disini tertulis juga nomor kereta dan kelas, ini dapat dengan mudah ditemukan diatas pintu masuk setiap kereta.

K1 0 16 01.

Di kedua ujung kereta ini diberi papan informasi yang berisi waktu saat ini, nama kereta, nomor kereta dan kadang-kadang ada informasi stasiun yang akan dilewati.

Papan informasi LED.

Sebelum duduk, sekalian aja yuk kita lihat toilet dari eksekutif 9 ini!

Ini dia wujud toilet di kereta inii! Di kereta ini ada 2 jenis toilet, toilet duduk dan toilet jongkok, saya kebetulan masuk di toilet duduknya. Bagaimana guys? Bersih kan toiletnya? Semoga selalu dalam kondisi ini ya selama perjalanan hehe. Terima kasih untuk petugas OTC kereta api! πŸ™‚

Toilet duduk.

Seperti ini bentuk wastafelnya, cukup besar untuk cuci tangan dan tersedia sabun yang di awal perjalanan diisi penuh oleh petugas. Keran di toilet ini airnya juga lancar.

Wastafel.

Toilet ini juga tersedia bidet shower, airnya juga cukup lancar.

Bidet shower.

Semua sudah saya ulas kan ? Kini saatnya duduk dan mulai mengulas tempat duduk yang ada di kereta Argo Lawu ini! πŸ˜€

Tempat duduk saya malam ini ada di nomor 11A. Pastinya merupakan kursi yang berada di dekat jendela hehehe, jarang banget saya kalau naik transportasi duduk di tempat duduk yang lebih jauh dari jendela.

11A!

Dan ini foto tempat duduknya dari dekat, langsung aja menurut saya ini cukup nyaman, tetapi padding kursi ini masih kurang enak karena cukup keras. Untuk ketinggian sandaran kursi ini juga masih cukup rendah, Berbeda dengan eksekutif tahun 2018 yang sudah cukup tinggi dan nyaman. Penasaran dengan review kereta eksekutif angkatan tahun 2018? Selalu pantau website ini yaa hehehe.

Kursi.

Di setiap kursi sudah tersedia bantal untuk membantu kenyamanan saat ingin tidur, bantal ini masih baru jadi gaperlu takut bekas karena selalu dibersihkan setiap kereta tiba di tujuan akhir.

Bantal.

Saatnya duduk guys! Saat duduk ini tampilan didepan saya selama 8 jam kedepan. Seperti biasa setiap tempat duduk diberi cover iklan KAI Access yang berfungsi untuk pembelian tiket kereta dan e-boarding kereta.

Dibawahnya ada kantung kursi yang kosong melompong tidak ada bahan bacaan. Disitu hanya ada plastik hitam untuk sampah makanan atau kantung jika mual.

Tempat duduk.

Hampir di setiap kereta kelas eksekutif saat ini tersedia sandaran kaki atau footrest. Tetapi menurut saya footrest di kereta eksekutif jenis ini tidak terlalu berguna, karena disini tidak tersedia penahan agar sandaran kaki tetap pada posisi turun.

Lebih gampangnya begini posisi footrest jika tidak kita gunakan.

Footrest.

Kalau kita ingin menggunakan kaki kita harus bisa menahan agar tidak kembali seperti posisi diatas, dan footrest ini juga tidak bisa diatur ketinggiannya.

Kekurangannya juga kalo tiba-tiba ingin kita lepas, pastikan melakukannya dengan cara halus agar tidak menimbulan bunyi “ctakkk” saat melepas footrest nya. Ini aalah satu kekurangan dari kereta keluaran 2016 dan 2017 ini.

Untuk kereta angkatan 2018 dan 2019? Soon yaaa ada di blog ini hehehe.

Footrest.

Lanjut, kursi ini memiliki meja lipat yang ukurannya sedang, mungkin cukup untuk makan tapi saya rasa sedikit kurang untuk menaruh laptop.

Meja makan.

Tapi recline atau kemiringan kursi saat posisi penuh bisa dibilang cukup enak lho guys, bagi saya sih sudah enak untuk tiduran, tapi saya tidak bisa tidur di perjalanan ini, tahu kenapa?

Recline.

Untuk mengaturnya bisa menekan tombol ini yang berada di sandaran tangan.

Tombol recline.

Disini juga ada tempat untuk menaruh botol minum dan dibawahnya ada stop kontak untuk mengisi daya smartphone, laptop dan tablet. Tersedia 2 buah yang artinya satu untuk satu penumpang.

Tempat minum dan colokan.

Tapi satu hal yang saya suka dari kereta ini adalah ceiling nya, menurut saya masih lebih bagus dari kereta eksekutif stainless steel terbaru, begitu juga eksterior dari kereta ini yang tadi para pembaca lihat.

Interior.

Tempat penyimpanan barang hanya berada diatas dan ukurannya menurut saya cukup besar. Cukup untuk menaruh koper ukuran sedang.

Tempat penyimpanan di atas.

Di dalam juga tersedia 2 televisi yang ada di tengah kereta, ada 2 juga di ujung kereta yang kelihatannya lebih besar.

Televisi di tengah.
Televisi di ujung.

Tersedia gantungan untuk menggantung jaket atau sejenisnya, tapi sebisa mungkin jangan gantung sampah yaa disini karena cukup mengganggu penumpang yang melihat hehehe termasuk saya.

Gantungan.

Dan disini juga tersedia lampu baca yang cukup terang, karena lampu akan diredupkan nanti maka ini akan berguna banget buat orang yang baca-baca majalah atau buku.

Lampu baca.

Ga nyangka ternyata waktu telah menunjukkan pukul 8 lewat 16 malam, saatnya Argo Lawu berangkat menuju Solo! Oh iya kali ini saya full trip yaa menuju Solo hehehe.

8.16 malam.

Selamat tinggal Stasiun Gambir! πŸ˜€

Bye Stasiun Gambir!

Selamat tinggal juga kota Jakarta! Sampai jumpa di lain hari! Maaf yaa karena perjalanan malam dan gelap jadinya tidak banyak foto-foto huhuhu. 😦

Selamat tinggal Jakarta!

Tadi saya sempat bilang kalau saya takut kereta ini akan penuh dan saya mengambil kereta paling belakang, tetapi apa yang saya takutkan itu salah, kereta ini hanya berisi 4 orang termasuk saya. 2 orang turun di Kutoarjo dan 1 di Yogyakarta. Jadi saya akan sendirian dari Yogyakarta ke Solo hehehe.

Sepi.

Kereta ini masih bergerak cukup pelan saat melintasi Stasiun Manggarai.

Stasiun Manggarai.

Begitu juga saat melewati Jatinegara, baru setelah lewat kereta ini langsung tancap gasss menuju Solo Balapan hehehe.

Kereta Argo Lawu menuju Solo Balapan tidak berhenti di Jatinegara alias melintas langsung kecuali ada suatu hal dimana tidak memungkinkan untuk mengangkut penumpang di Stasiun Gambir.

Untuk Argo Lawu dari Solo Balapan, akan menurunkan penumpang di Jatinegara baru menuju stasiun akhir Stasiun Gambir.

Dipo Induk Jatinegara.

Kereta sudah melaju cepat, kini saatnya bersantai sambil menonton film yang sudah saya beli sebelumnya. Selamat menonton! πŸ˜€

Menonton film.

Saat ini speedometer menunjukkan kecepatan 96 Km/jam. Cukup kencang bukan?

Kencangggg.

Engga begitu lama, dengan kondisi di pertengahan film, perut saya mulai kelaparan. Yuk jalan-jalan melewati 4 kereta didepan menuju Restorasi! Butuh perjuangan juga karena kereta bergoyang-goyang saat saya jalan ke restorasi.

Restorasi kereta ini menggunakan restorasi buatan tahun 2016 juga lhoo, jadi sudah sepaket dengan kereta penumpang didepan dan dibelakangnya.

Oh iya di restorasi ini tersedia Musholla lho guys, walaupun ukurannya tidak besar, tetapi masih cukup memadai untuk penumpang yang ingin menunaikan ibadah Sholat.

Musholla.

Ini penampakan lorong menuju ruang utama kereta restorasi.

Restorasi.

Keadaan restorasi malam itu cukup penuh, karena kereta baru berangkat 1 jam yang lalu dan mayoritas penumpang masih bangun. Untung saya dapet 1 makanan hehehe, kalo telat mungkin harus menunggu makanan baru di Stasiun Cirebon nanti dehh.

Restorasi.

Karena restorasi Argo Lawu cukup penuh, saya memutuskan untuk makan di tempat duduk saya, butuh perjuangan juga karena harus membawa makanan dan minuman sekaligus sedangkan kereta ini masih bergoyang-goyang.

Dan ini dia minuman yang saya beli! Seperti biasa supaya tetap hangat, tentunya teh panas hehehe. Teh di kereta ini menggunakan Tong Tji. Lumayannn.

Teh panas.

Untuk makanannya saya mendapat Nasi Rames Nusantara, soalnya sisa makanan ga begitu banyak dan yang masih banyak adalah nasi ini. Saya ambil dehh walaupun ada yang saya ga terlalu doyan dari makanan ini.

Nasi Rames Nusantara.

Unboxing yukkk! Berikut foto makanannya! Kalau menurut kalian kira-kira enak ga guys? Dagingnya sih enak dan tempenya juga enak, tapi karena saya ga doyan telur rebus, tidak saya makan deh huhuhuhu. 😦

Unboxing Nasi Rames.

Selain lauk tadi, juga ada acar dan timun, saya ga doyan juga keduanya hehehe.

Timun dan Acar.

Saya selesai makan saat kereta ini melewati Stasiun Cikampek. Stasiun ini merupakan stasiun percabangan dengan rel menuju Stasiun Purwakarta dan kearah Stasiun Bandung.

Stasiun Cikampek.

Setelah Stasiun Cikampek, lampu kereta mulai diredupkan, untung sudah makan dulu tadi hehehe.

Oh iya walaupun diredupkan tapi sepanjang perjalanan saya tidak bisa tidur sama sekali, ga percaya? Tapi itulah yang terjadi. 😦

Satu hal yang berpengaruh adalah kereta ini yang cukup berisik saat jalan. Yap, kereta jenis ini memang terkenal berisik dari teman-teman dan info yang saya baca, mungkin peredam di kereta 2016 ini masih kurang ampuh untuk meredam suara berisik roda. Untuk guncangan saya rasa juga masih cukup keras dibandingkan dengan eksekutf angkatan 2009 eks Gajayana yang sekarang menggunakan eksekutif jenis ini juga.

Redup.

Saya mencoba untuk tidur setelah ini tetapi tidak berhasil, sekarang pukul 11.01 malam dan kereta ini sudah berhenti di stasiun pemberhentian pertama yaitu Stasiun Cirebon.

Argo Lawu ini berhenti di Stasiun Cirebon lebih cepat 2 menit dari jadwal. Rencananya Argo Lawu akan berhenti selama 9 menit hingga pukul 11.12 malam.

Pukul 11 malam.

Suasana di Stasiun Cirebon sudah sepi hehehe, mungkin karena sudah mulai malam dan tidak banyak penumpang yang keluar masuk kereta.

Stasiun Cirebon.

Tepat pada pukul 11.12 malam kereta Argo Lawu diberangkatkan kembali menuju stasiun pemberhentian berikutnya, Stasiun Purwokerto.

Dibawah ini adalah saat kereta ini berpisah dari Jalur utara ke jalur selatan di Stasiun Cirebon Prujakan.

Diberangkatkan dari Cirebon.

Oke guys karena sepanjang perjalanan dari Stasiun Cirebon ke Stasiun Purwokerto cukup gelap, jadinya saya tidak mengambil gambar luar sama sekali. Maaf ya guys.

Akhirnya pada pukul 1.05 malam kereta ini tiba di Stasiun Purwokerto, stasiun pemberhentian kedua. Datang 4 menit lebih cepat dari jadwal datangnya kereta api Argo Lawu ini.

Pukul 1.05 malam.

Disini tampaknya jauh lebih sepi dibanding Stasiun Cirebon tadi. Soalnya sudah larut juga hehehe. Saya menyempatkan untuk keluar karena ga betah kalau cuma duduk-duduk aja didalam kereta.

Stasiun Purwokerto.

Karena takut ditinggal, jalan-jalannya didalam kereta aja yukk hehehe.

Melewati beberapa kereta eksekutif didepan.

Eksekutif Argo Lawu.

Saya membawa ini ke tempat duduk saya setelah jalan-jalan tadi, soalnya di kereta ini AC nya dingin bangettt, mungkin kopi cappucino panas bisa sedikit membantu.

Kopi panas.

Sudah jam keberangkatan kembali dari Purwokerto tetapi masih belum ada peluit dari kondektur, ternyata kereta ini bersilang dulu dengan Kereta Argo Dwipangga dari Solo Balapan menuju Stasiun Gambir.

Argo Dwipangga ini juga menggunakan kereta eksekutif buatan tahun 2016 yang sama persis dengan Argo Lawu yang saya naiki.

Argo Dwipangga.

Dan akhirnya berangkat walaupun telat sedikit, sedikit banget sih hanya 3 menit hehehe. Good job KAI! πŸ™‚

Berangkaat!

Next saya hanya bisa merem tanpa bisa tidur, selain kereta yang cukup berisik, suhu udara di kereta yang dinginnnnn banget membuat saya tambah susah tidur hehehe.

Entah benar atau tidak, suhu saat ini menunjukkan 20 derajat celcius.

Dingiiiin.

Sekitar jam segitu kereta Argo Lawu telah tiba di Stasiun Kutoarjo. Hanya 2 stasiun lagi sebelum Stasiun Solo Balapan yeyyyy! Ga sabarrr. πŸ˜€

Seperti biasa saya sempatkan untuk keluar walaupun hanya sebentar mengingat dinginnya AC didalam eksekutif 9.

Stasiun Kutoarjo.

Beberapa saat menjelang Stasiun Yogyakarta, lampu kereta mulai dinyalakan normal kembali dari mode malamnya, silau guys dari mode malam tiba-tiba ke mode normal hehehe.

Hayo kira-kira dimana ya yang beda antara mode malam dengan cahaya penuhnyaa?

Mode normal.

Stasiun berikutnya, Yogyakarta. Stasiun yang cukup familiar, karena sering banget kesini. πŸ˜€

Kereta Argo Lawu berhenti di jalur 3, saat ini masih terpantau tepat waktu. Semoga selalu lancar dan tiba di Solo tepat waktu juga yeyyy.

Stasiun Yogyakarta.

Aslinya ada 1 stasiun pemberhentian terakhir sebelum Stasiun Solo Balapan, tetapi tidak saya foto karena sedang berada di toilet untuk memenuhi panggilan alam :))))

Selepas Yogyakarta saya menjadi satu-satunya penumpang yang ada di eksekutif 9. Untungnya ada bapak petugas OTC yang duduk di eksekutif 9 dan saya ngobrol dengan beliau yang juga orang Solo.

Terima kasih pak saya tidak benar-benar sendir lagi hehehe.

Sesaat lagi kereta api akan tiba di Solo Balapan, yuk siap-siap guys! Sudah dekat dan sekarang akan melewati stasiun yang ada didekat kampung saya, Stasiun Gawok.

Sebentar lagii.

Skip skip, akhirnya kereta Argo Lawu tiba dengan tepat waktu di Stasiun Solo Balapan. Terima kasih K1 0 16 01 as Argo Lawu telah membawa saya dengan selamat dari Jakarta ke Solo! Sampai jumpa lagi Argo Lawu! πŸ˜€

Byeee!

Ini menandakan berakhirnya train review ini! Yeyyyyyy!


Okay guys akhirnya kita tiba di ujung dari review kereta Argo Lawu saya.

Pertama terima kasih untuk semua kru yang bertugas di kereta Argo Lawu ini! Senang dapat menaiki KA kedua favorit saya dibawah KA Lodaya.

Untuk makanan yang saya beli kebetulan cukup enak walaupun harga yaaa begitu dehh cukup mahal, tapi lumayan worth ko karena lumayan rasa dan porsi makanannya.

Lalu tempat duduk, menurut saya sudah cukup enak walaupun footrest hampir tidak berguna, sandaran kaki yang seharusnya dibuat dengan posisi fixed disini malah kita harus menahannya agar bisa digunakan. Kebisingan kereta ini menurut saya juga mengecewakan, saya duduk sedikit jauh dari pintu tetapi suara dari luar sangat-sangat terdengar. Gimana ya kalau penuh dan harus duduk di single seat paling depan atau paling belakang?

Oke mungkin itu saja saran dari saya, semoga dapat diperbarui kedepannya agar sesuai dengan standar kenyamanan penumpang. Terima kasih telah sempat mampir dan membaca, sampai jumpa lagi di review saya selanjutnyaa! πŸ˜€ πŸ˜€

Instagram @firstmarezacom

2 komentar

Tinggalkan Balasan ke Reni Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: